Markus 3: 24-25
“Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.”
Firman Yesus dalam Markus 3:24 sama seriusnya hari ini seperti 2.000 tahun yang lalu: "Jika suatu kerajaan terpecah melawan dirinya sendiri, kerajaan itu tidak dapat berdiri teguh."
Meskipun Yesus awalnya berbicara tentang alam spiritual, prinsip ini adalah hukum kehidupan universal. Jika fondasi sebuah rumah retak, atapnya akhirnya akan roboh. Jika sebuah tim bermain melawan satu sama lain alih-alih melawan lawan, mereka akan kalah.
Sulit untuk mengabaikan bahwa Gereja modern seringkali terasa seperti rumah dengan banyak retakan di dindingnya. Kita seringkali terpecah oleh hal-hal yang sedikit hubungannya dengan inti Injil:
Kita berdebat tentang gaya musik, proyek pembangunan, atau bagaimana seharusnya sebuah kebaktian terlihat.
Kita membiarkan tribalisme duniawi menjadi lebih penting daripada kewarganegaraan surgawi kita.
Kita fokus pada menjadi "benar" daripada menjadi "penuh kasih".
Ketika kita terpecah, kita kehilangan kekuatan kita. Terlebih lagi, kita kehilangan kesaksian kita. Yesus berkata bahwa dunia akan tahu kita adalah murid-murid-Nya melalui kasih kita satu sama lain—bukan melalui kemampuan kita untuk saling mengalahkan dalam berdebat.
Perpecahan tidak hanya berhenti di pintu gereja; perpecahan itu mengikuti kita sampai ke rumah.
Bagi Orang Percaya: Konflik yang terus-menerus menciptakan "kelelahan rohani". Sulit untuk bertumbuh dalam iman ketika Anda selalu dalam posisi defensif, menunggu perselisihan berikutnya.
Bagi Keluarga: Ketika orang tua membawa "roh perpecahan" ke rumah—mengeluh tentang kepemimpinan atau mengkritik anggota lain saat makan malam Minggu—itu menciptakan lingkungan sinisme.
Bagi Anak-Anak: Ini mungkin tragedi terbesar. Anak-anak ahli dalam mengenali kemunafikan. Jika mereka melihat "kerajaan yang terpecah" di gereja dan "roh yang terpecah" di rumah, mereka sering memutuskan bahwa iman tidak sepadan dengan masalahnya. Mereka tidak hanya meninggalkan gereja; mereka meninggalkan kedamaian yang Tuhan inginkan bagi mereka.
Bayangkan sebuah orkestra besar berkumpul untuk memainkan sebuah mahakarya. Setiap musisi memiliki instrumen yang berbeda—biola, terompet, drum, dan seruling.
Jika pemain biola memutuskan bahwa mereka membenci suara terompet dan mulai memainkan lagu yang berbeda untuk menenggelamkannya, musik menjadi kebisingan. Jika pemain seruling memutuskan bahwa mereka tidak menyukai konduktor dan memulai ritme mereka sendiri, mahakarya itu hancur.
Instrumen-instrumen tersebut dimaksudkan untuk berbeda, tetapi mereka harus diselaraskan pada frekuensi yang sama (Firman Tuhan) dan mengikuti Konduktor yang sama (Roh Kudus). Ketika mereka melakukannya, musik menjadi indah. Ketika mereka berebut sorotan, penonton—dunia yang menyaksikan—hanya menutup telinga mereka dan pergi.
Persatuan tidak berarti "keseragaman." Kita tidak harus terlihat, berpakaian seragam, atau berpikir persis sama dalam setiap detail kecil. Persatuan berarti kita semua bergerak ke arah yang sama, didorong oleh kasih yang sama.
Untuk menyembuhkan kerajaan yang terpecah, kita harus mulai dengan melihat ke cermin. Kita dapat bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya seorang pembangun jembatan, ataukah saya seseorang yang justru memperdalam jurang pemisah?”
Doa:
Tuhan, bantulah saya menjadi pribadi yang cinta damai. Jika ada perpecahan di hati saya, keluarga saya, atau gereja saya, tunjukkanlah kepada saya bagaimana cara membawa penyembuhan. Biarlah saya lebih tertarik untuk mengasihi sesama daripada memenangkan perdebatan. Amin.
Hak Cipta Renungan oleh Harry Lee MD; PsyD; BBS – Gembala Restoration Christian Church, Los Angeles
Live Chat
Phone / SMS
0811 9914 240
0817 0300 5566
Whatsapp
0822 1500 2424